fast fashion dan slow fashion

Sudahkah kamu mendengar istilah fast fashion dan slow fashion? Apa maksudnya? Secara sederhana, fast fashion dapat diartikan sebagai mode cepat, dan slow fashion diartikan sebagai mode lambat. Ya, penamaan ini tidak jauh dari seberapa cepat sebuah produk fashion di produksi.

Kita tahu, industri fashion memiliki perkembangan yang cukup cepat dibandingkan dengan industri lain. Setiap tahun, bahkan musim, industri fashion pasti akan menciptakan model-model dengan gaya terbaru. Dengan perkembangan yang terus berganti inilah, banyak orang yang tergoda untuk membeli pakaian dengan model terbaru itu. Lantas mengabaikan, “Berapa lama pakaian ini akan bertahan dan digunakan ulang?

Meski terlihat sederhana, fast fashion membawa dampak yang cukup negatif bagi lingkungan dan etika sosial. Lantas, bagiamana mengatasinya? Dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang fast fashion, dampaknya, hingga bagaimana slow fashion hadir untuk “menggeser” trend fast fashion.

Apa itu Fast Fashion?

Fast Fashion atau mode cepat adalah produk fashion yang diproduksi secara cepat dan massal. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap pakaian yang trendy dan murah. Seringkali, produsen-produsen fast fashion meniru gaya atau model populer dari merek fashion ternama atau desainer independen yang terkenal.

Dalam sejarahnya, istilah fast fashion mulai muncul sekitar 1970-an, ketika pengecer mulai mengekspor produksinya ke berbagai negara, khususnya di wilayah Asia. Di sana, mereka dapat membayar pekerja dengan upah yang lebih rendah dibanding di negara-negara Eropa. Ini memungkinkan mereka untuk menghemat biaya produksi dengan tetap menghasilkan produk dalam jumlah besar.

Di tahun 1990-an, fast fashion mulai populer. Brand seperti H&M, Zara, dan Forever21 adalah pelopor dari populernya fast fashion. Hal ini juga dapat dilihat dari perilisan mode fashion mereka di setiap musim.

Mengapa Fast Fashion Digemari?

Fast fashion yang menawarkan mode pakaian terbaru dengan harga yang murah, telah cukup menarik perhatian, khususnya bagi kalangan anak muda. Ini menjadi pilihan mereka agar dapat tetap bisa mengekspresikan gaya melalui berbagai model pakaian.

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa fast fashion cukup digemari:

Harga Terjangkau

Pakaian fast fashion umumnya dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan merek fashion mewah.Hal ini memungkinkan konsumen, terutama generasi untuk mengikuti trend terbaru tanpa mengeluarkan uang lebih banyak.

Mengikuti Tren Populer

Fast fashion sangat responsif terhadap tren fashion yang sedang populer. Ini memungkinkan konsumen untuk bisa tampil dengan gaya terkini tanpa harus menunggu lama atau mengeluarkan biaya besar.

Pilihan Beragam

Fast fashion menawarkan berbagai pilihan desain, warna, dan gaya pakaian. Ini memungkinkan konsumen untuk mengekspresikan kepribadian dan gaya mereka secara bebas melalui pakaian.

Akses Mudah

Produk-produk fast fashion mudah ditemukan di banyak toko-toko fisik dan online. Hal ini memudahkan konsumen untuk menemukan dan membeli pakaian yang mereka inginkan.

Rasa Puas

Membeli pakaian baru, terutama yang sedang tren, dapat memberikan rasa senang dan kepuasan bagi konsumen, terutama bagi mereka yang ingin selalu tampil up-to-date.

Sisi Gelap Fast Fashion terhadap Lingkungan

Di balik fast fashion yang menawarkan produk dengan harga murah, trendy, dan mudah didapatkan, fast fashion juga menawarkan sejumlah sisi gelapnya terhadap lingkungan. Industri fashion sendiri telah menjadi salah satu golongan industri paling berpolusi di dunia.

Dalam prosesnya, industri fashion membutuhkan bahan baku dengan jumlah besar. Hal ini dapat berdampak untuk menciptakan polusi yang tinggi, meninggalkan jejak karbon yang signifikan, dan menghasilkan limbah dalam jumlah yang juga besar.

Pada proses produksi, misalnya. Menurut Wildlife Fund (2019) dalam Mark K. Brewer, setidaknya 20.000 liter air digunakan untuk memproduksi 1 kilogram kapas.

Selain itu, dalam proses pewarnaan pakaian, industri ini sering menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya atau logam berat. Apabila ini dialirkan ke sungai-sungai tanpa dilakukan proses pengolahan limbah yang tepat, ini memungkinkan dapat mengancam kehidupan di ekosistem air dan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Tak hanya berpengaruh pada ekosistem air, dalam proses produksi serat dan tekstil, industri ini menghasilkan sekitar 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca di tahun 2015. Selain dari proses produksi, permintaan pasar yang tinggi memungkinkan produsen untuk melakukan distribusi lebih cepat dan tinggi. Ini mendorong peningkatan transportasi untuk melakukan perjalanan dari satu negara ke negara yang lain dan berakhir di toko-toko di seluruh dunia.

Ditambah dengan gaya konsumtif masyarakat yang tinggi terhadap pakaian, seringkali pakaian yang tidak terpakai atau tidak diinginkan menumpuk dan akhirnya dibuang. Apalagi fast fashion yang sering menggunakan bahan-bahan sintetis seperti polyester, rayon, atau nilon,dimana bahan-bahan ini memerlukan waktu 200 tahun untuk terurai. Ini menambah masalah baru terhadap peningkatan limbah.

Dampak Fast Fashion dalam Etika Sosial

Tidak hanya berdampak pada lingkungan, praktek fast fashion juga mempengaruhi pada etika sosial yang buruk seperti budaya konsumtif. Fast fashion memungkinkan masyarakat untuk bisa mendapatkan model pakaian yang trendy dengan harga yang lebih murah. Dengan begitu, masyarakat dengan mudah mengonsumsi, menimbun, dan membuang pakaian baru yang berakibat pada peningkatan limbah tekstil.

Selain budaya konsumtif, fast fashion juga berdampak pada mereka para pekerja garmen. Sebagian besar brand-brand fast fashion mengalihkan sebagian produksinya ke pabrik-pabrik garment di negara-negara dengan pendapatan rendah, seperti Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.

Di mana, di negara-negara tersebut para pekerja mendapatkan upah yang lebih kecil dengan jam kerja yang cukup tinggi. Selain itu, para pekerja garmen juga bekerja pada kondisi ruangan yang kurang aman, seperti ruangan tanpa ventilasi, suhu yang tinggi, pengawas yang kasar, dan paparan bahan kimia.

Slow Fashion: Solusi Awal untuk Perubahan

Kita sudah tahu bagaimana fast fashion berjalan sebagai trend yang populer dan mendominasi di dunia. Namun, juga menawarkan dampak yang cukup mengkhawatirkan. Lantas, bagaimana mengatasinya? Dengan mempraktekkan slow fashion, yaitu membeli pakaian dalam jumlah sedikit dengan kualitas yang tinggi.

Apa itu Slow Fashion?

Di tengah trend fast fashion yang semakin populer, Kate Fletcher (2007) mendirikan gerakan slow fashion atau mode lambat sebagai upaya untuk “menghentikan” trend fast fashion. Perusahaan-perusahaan yang ikut dalam gerakan slow fashion ini menekankan praktek lebih berkelanjutan dengan pengelolaan produksi yang baik, menghargai keterampilan pekerja, dan hasil produk yang berkualitas.

Secara lebih detail, berikut beberapa karakteristik slow fashion, seperti:

Mengutamakan Kualitas daripada Kuantitas

Produk slow fashion dirancang agar dapat bertahan lama, bukan sekedar mengikuti trend. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pakaian yang tahan lama, produk slow fashion menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi dan teknik produksi yang baik dan berstandar.

Memperhatikan Transparansi dan Etika Produksi

Selain menjamin kualitas produk, slow fashion juga menawarkan pentingnya perlakuan adil terhadap pekerja dengan memastikan upah yang layak dan lingkungan kerja yang aman.

Desain Timeless

Slow fashion mengusahakan dalam menciptakan gaya pakaian yang lebih abadi agar tidak ketinggalan zaman.

Perbaikan dan Daur Ulang

Slow fashion juga mendorong gerakan memperbaiki pakaian yang rusak dan mendaur ulang pakaian yang sudah tak terpakai. Ini gerakan yang dapat memungkinkan untuk limbah tekstil dan memberikan nilai tambah bagi pakaian bekas.

Manfaat Slow Fashion

  • Mengurangi Dampak Lingkungan: Produksi pakaian dalam jumlah besar menghasilkan limbah tekstil, penggunaan air yang tinggi, serta emisi karbon. Slow fashion membantu mengurangi jejak ekologis industri mode.
  • Mendukung Praktik Kerja yang Adil: Slow fashion mendorong konsumen untuk mendukung merek yang memperhatikan upah layak, kondisi kerja yang manusiawi, dan hak-hak buruh.
  • Membangun Lemari Pakaian yang Berkualitas dan Fungsional: Dengan fokus pada kualitas dan keserbagunaan, konsumen bisa memiliki pakaian yang lebih tahan lama dan tidak cepat usang oleh tren musiman.
  • Meningkatkan Kesadaran akan Nilai Pakaian: Konsumen diajak untuk menghargai proses pembuatan pakaian dan tidak memperlakukan pakaian sebagai barang sekali pakai.

Gerakan dan Kampanye Slow Fashion

Dalam mendukung gerakan slow fashion, konsumen mendapat peran penting untuk mengurangi trend fast fashion. Salah satunya dengan membeli pakaian-pakaian yang lebih sedikit dengan kualitas yang tinggi. Meski dibarengi dengan harga yang lebih tinggi, pakaian dengan kualitas tinggi juga memiliki daya tahan yang lebih lama.

Selain itu, perusahaan-perusahaan garmen juga dapat mulai terlibat dalam praktik yang lebih berkelanjutan, seperti menggunakan bahan ramah lingkungan, meminimalkan limbah produksi, serta mendukung kesejahteraan pekerja. Perusahaan juga perlu untuk lebih transparan dalam rantai pasokan dan produksi mereka.

Meningkatkan Kesadaran Publik terhadap Trend Slow Fashion

Gerakan slow fashion berusaha meningkatkan kesadaran publik melalui edukasi dan kampanye di berbagai platform, baik dari perusahaan sendiri, media sosial, dokumenter, pameran mode berkelanjutan, serta kolaborasi dengan influencer dan desainer. Tujuannya adalah untuk mengubah pola pikir konsumen agar lebih kritis terhadap asal-usul pakaian mereka, proses produksinya, hingga dampaknya terhadap lingkungan dan sosial.

Bahkan pengecer besar seperti H&M telah mulai menerima pakaian bekas yang masih layak pakai dengan imbalan voucher toko. Barang-barang ini kemudian diproses kembali dan dijual dalam kondisi bekas, digunakan untuk membuat produk baru, atau didaur ulang menjadi bahan insulasi dan bantalan furniture. Meskipun langkah ini belum sepenuhnya sejalan dengan prinsip slow fashion, namun menjadi contoh bagaimana kesadaran akan keberlanjutan mulai masuk ke dalam praktik ritel skala besar.

Langkah Sederhana Mendukung Gerakan Slow Fashion

Berikut adalah langkah sederhana yang dapat kamu lakukan untuk mendukung gerakan slow fashion:

1. Beli Lebih Sedikit, Pilih yang Berkualitas

Fokus pada membeli pakaian yang benar-benar dibutuhkan, bukan karena tren sesaat. Utamakan kualitas daripada kuantitas agar pakaian bisa bertahan lama dan tidak cepat rusak. Ini membantu mengurangi limbah dan konsumsi berlebihan.

2. Dukung Merek Lokal dan Etis

Pilih merek yang memproduksi pakaian secara adil, transparan, dan ramah lingkungan. Merek slow fashion biasanya menggunakan bahan alami, menghindari limbah berlebih, dan memberi upah layak kepada pekerja.

3. Rawat dan Perbaiki Pakaian

Memperpanjang usia pakaian adalah inti slow fashion. Cuci sesuai petunjuk label, simpan dengan baik, dan perbaiki kerusakan kecil seperti sobek atau kancing lepas agar tidak perlu beli baru.

4. Belanja Pakaian Bekas/Thrift

Membeli pakaian second-hand mengurangi permintaan produksi baru dan memperpanjang siklus hidup pakaian yang sudah ada. Ini cara praktis dan terjangkau untuk berkontribusi pada fashion berkelanjutan. Namun, tetap perhatikan standar kelayakan pakaian dan dampak bagi kesehatan.

5. Tukar atau Sumbangkan Pakaian

Daripada membuang pakaian, lebih baik ditukar dengan teman atau disumbangkan ke orang yang membutuhkan. Ini membantu mengurangi limbah dan memberi nilai baru pada pakaian lama.

6. Gunakan Ulang dan Upcycling

Ubah pakaian lama menjadi barang baru yang berguna, seperti menjadikan kaos lama menjadi tas, atau memodifikasi model pakaian agar terlihat baru. Kreativitas ini mendukung pengurangan sampah tekstil.

Kita sudah melihat, fast fashion dan slow fashion menunjukkan dua jalan yang berbeda dalam industri mode. Sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan untuk membuat perubahan. Memilih slow fashion berarti mengambil langkah menuju konsumsi yang lebih sadar dengan membeli lebih sedikit tapi berkualitas, meneliti merek, membeli pakaian bekas, merawat pakaian dengan baik, dan mendukung merek yang transparan serta berkomitmen pada keberlanjutan.

Pada akhirnya, pilihan ada di tanganmu, bukan? Apakah kamu akan mengikuti arus fast fashion yang serba cepat dan berdampak besar, atau memilih jalur slow fashion yang lebih berkelanjutan dan penuh kesadaran?